(PAHIT)
Yongky
on Inspiration
Ini bukanlah sebuah cerita cinta yang
menyedihkan. Cerita ini seharusnya berakhir bahagia. Tanpa kata tetapi, tanpa
kata namun. Ya, cerita ini harus menjadi cerita yang bahagia.
Aku adalah seorang penulis, jatuh cinta
kepada seorang editor. Editor yang menyunting bukuku sendiri. Pertama kali
bertemu di kantor redaksi. Kini, kami sudah saling mencintai. Baru seusia lima
bulan. Terlalu dini untuk menikah dan memikirkan masa depan yang lebih jauh.
Suatu hari,
aku mendapati ia sedang mencium seorang perempuan. Ah, betapa sakitnya hatiku.
Bukan hanya karena merasa terkoyak dan ditelan oleh rasa cemburu, tapi juga karena
begitu terkejut, mendapati perempuan yang tengah “menikmati” momen busuk dengan
si Yongky itu adalah Ratih. Gadis penuh sensasi dan “liar”. Yang diobral Yongky
dengan kata-kata negatif setiap kali berceloteh dihadapku. Tapi sekarang??
“oh Yongky…!?
Benar-benar Gila kau! Gila…Gila..!” Gumamku kesal dengan gelengan heran.
Ku palingkan
wajah dan bergegas menjauh. Lama ku berjalan. Lama sekali. Tanpa tujuan. Entah
sudah seberapa jauh ku tinggalkan mereka di kantor itu, ruangan itu. Hah..
Sepanjang jalan ku terus berfikir. Menghela nafas berat.
Ku terhenti
dan terduduk di sebuah bangku taman. Masih ku bawa cuilan perasaan hancur beberapa
jam yang lalu. Ku keluarkan naskah novel baruku dari tas. Entah angin apa yang
membawaku datang ke tempat ini. Hanya saja dinginnya malam dan hangatnya cahaya
lampu ini membuatku lebih longgar bernafas, sedikit tenang, mulai sejuk dan hangat.
Ku
pandangi naskah novel bernuansa cinta itu dengan perasaan geli. Judul “Cinta
Menjemputku” yang terinspirasi dari sebuah harapan dan juga rasa takut. Tak
disangka sang pemberi harapan dan cinta yang sebenarnya, menjemputku dengan
ending yang tidak hanya menakutkan tapi begitu konyol dan menjijikkan.
“hahahhaha
Yongky… Yongky… kenapa mulutmu itu manis sekali?? Berani-beraninya kamu ngomong
soal marriedlah, masa depanlah, tapi menjaga komitmenmu sendiri hanyalah omong
kosong.”
Ku
pandangi hitamnya langit. Ku rasakan angin begitu lembut. Entahlah, kini aku
hanya merasa begitu lega. Seakan aku telah terbebas dari jeratan hati. Mungkin
rasa keragu-raguanku selama ini tidaklah salah. Pandangan kita kala itu,
hanyalah sebatas rasa tertarik. Ya, entah apa yang kau lihat dariku hingga rela
habiskan hampir setengah tahun berorasi mesra dengan angan-angan berbunga.
Mungkin aku terlalu lama memberi jawaban soal tawaran menikah? Hingga kau
lelah. Ataukah aku terlalu serius mengejar mimpi? Hingga kau bosan. Atau malah
memang kau itu pemburu cinta sesaat?
Pantas
saja akhir-akhir ini banyak orang kantor yang menatapku dengan pandangan iba.
Sesekali ku dengar mereka berbisik-bisik menyebut-nyebut namaku disertai
kalimat aneh dibelakangnya “iya kasihan, alah paling cuma buat mainan, biasa
penulis pengen ngetop tuh, ah paling juga enggak lama.” Malam inipun akhirnya
aku tahu, kalimat apa yang ada di tengah-tengah rumpian mereka,”dibohongin mau
aja!”
Ku
masukkan lagi naskah itu ke dalam tas sembari tersenyum-senyum. Ide cemerlang
untuk novel baru sudah berkeliaran di dalam otak. Hmmh renungan sekejab ini
memberiku komposisi cerita cinta baru. Ya.. Baguslah, belum sempat ku terima
tawaran menikah dengan si Gila itu, Tuhan memberikanku jawaban sekaligus
petunjuk laki-laki mana yang lebih tepat untukku. Yup! Si Rendra! Teman
sekantor, si penulis artikel yang juga berprofesi sebagai fotografer. Malu-malu
dia mendekatiku sambil membawa dua cangkir kopi. Tepatnya empat hari yang lalu,
ia meletakkan secangkir kopi di mejaku dan, pertanyaan “bisakah sahabat jadi
cinta terjadi di antara kita?” terucap. J
“Hahahaha…
terimakasih Tuhan. Sungguh alur yang Engkau buat begitu inspiratif.”
Fiction
story ini inspirasi dari gagasmedia yang mencoba menciptakan imajinasi dari
penggalan cerita yang sudah dibalut dengan tema cinta. Dan menariknya di sini, kita diberikan ruang
untuk mengembangkan alur dan konflik sendiri. Jadi, kita bisa semakin
berkembang dalam mengeksplorasi ide. Terimakasih.