Minggu, 21 September 2014

(PAHIT)

(PAHIT)

Yongky on Inspiration


Ini bukanlah sebuah cerita cinta yang menyedihkan. Cerita ini seharusnya berakhir bahagia. Tanpa kata tetapi, tanpa kata namun. Ya, cerita ini harus menjadi cerita yang bahagia.
Aku adalah seorang penulis, jatuh cinta kepada seorang editor. Editor yang menyunting bukuku sendiri. Pertama kali bertemu di kantor redaksi. Kini, kami sudah saling mencintai. Baru seusia lima bulan. Terlalu dini untuk menikah dan memikirkan masa depan yang lebih jauh.
Suatu hari, aku mendapati ia sedang mencium seorang perempuan. Ah, betapa sakitnya hatiku. Bukan hanya karena merasa terkoyak dan ditelan oleh rasa cemburu, tapi juga karena begitu terkejut, mendapati perempuan yang tengah “menikmati” momen busuk dengan si Yongky itu adalah Ratih. Gadis penuh sensasi dan “liar”. Yang diobral Yongky dengan kata-kata negatif setiap kali berceloteh dihadapku. Tapi sekarang??
“oh Yongky…!? Benar-benar Gila kau! Gila…Gila..!” Gumamku kesal dengan gelengan heran.
Ku palingkan wajah dan bergegas menjauh. Lama ku berjalan. Lama sekali. Tanpa tujuan. Entah sudah seberapa jauh ku tinggalkan mereka di kantor itu, ruangan itu. Hah.. Sepanjang jalan ku terus berfikir. Menghela nafas berat.
Ku terhenti dan terduduk di sebuah bangku taman. Masih ku bawa cuilan perasaan hancur beberapa jam yang lalu. Ku keluarkan naskah novel baruku dari tas. Entah angin apa yang membawaku datang ke tempat ini. Hanya saja dinginnya malam dan hangatnya cahaya lampu ini membuatku lebih longgar bernafas, sedikit tenang, mulai sejuk dan hangat.
Ku pandangi naskah novel bernuansa cinta itu dengan perasaan geli. Judul “Cinta Menjemputku” yang terinspirasi dari sebuah harapan dan juga rasa takut. Tak disangka sang pemberi harapan dan cinta yang sebenarnya, menjemputku dengan ending yang tidak hanya menakutkan tapi begitu konyol dan menjijikkan.
“hahahhaha Yongky… Yongky… kenapa mulutmu itu manis sekali?? Berani-beraninya kamu ngomong soal marriedlah, masa depanlah, tapi menjaga komitmenmu sendiri hanyalah omong kosong.”
Ku pandangi hitamnya langit. Ku rasakan angin begitu lembut. Entahlah, kini aku hanya merasa begitu lega. Seakan aku telah terbebas dari jeratan hati. Mungkin rasa keragu-raguanku selama ini tidaklah salah. Pandangan kita kala itu, hanyalah sebatas rasa tertarik. Ya, entah apa yang kau lihat dariku hingga rela habiskan hampir setengah tahun berorasi mesra dengan angan-angan berbunga. Mungkin aku terlalu lama memberi jawaban soal tawaran menikah? Hingga kau lelah. Ataukah aku terlalu serius mengejar mimpi? Hingga kau bosan. Atau malah memang kau itu pemburu cinta sesaat?       

Pantas saja akhir-akhir ini banyak orang kantor yang menatapku dengan pandangan iba. Sesekali ku dengar mereka berbisik-bisik menyebut-nyebut namaku disertai kalimat aneh dibelakangnya “iya kasihan, alah paling cuma buat mainan, biasa penulis pengen ngetop tuh, ah paling juga enggak lama.” Malam inipun akhirnya aku tahu, kalimat apa yang ada di tengah-tengah rumpian mereka,”dibohongin mau aja!”

Ku masukkan lagi naskah itu ke dalam tas sembari tersenyum-senyum. Ide cemerlang untuk novel baru sudah berkeliaran di dalam otak. Hmmh renungan sekejab ini memberiku komposisi cerita cinta baru. Ya.. Baguslah, belum sempat ku terima tawaran menikah dengan si Gila itu, Tuhan memberikanku jawaban sekaligus petunjuk laki-laki mana yang lebih tepat untukku. Yup! Si Rendra! Teman sekantor, si penulis artikel yang juga berprofesi sebagai fotografer. Malu-malu dia mendekatiku sambil membawa dua cangkir kopi. Tepatnya empat hari yang lalu, ia meletakkan secangkir kopi di mejaku dan, pertanyaan “bisakah sahabat jadi cinta terjadi di antara kita?” terucap. J
“Hahahaha… terimakasih Tuhan. Sungguh alur yang Engkau buat begitu inspiratif.”



Fiction story ini inspirasi dari gagasmedia yang mencoba menciptakan imajinasi dari penggalan cerita yang sudah dibalut dengan tema cinta. Dan menariknya di sini, kita diberikan ruang untuk mengembangkan alur dan konflik sendiri. Jadi, kita bisa semakin berkembang dalam mengeksplorasi ide. Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar