Strong Is Candid There
Lengkungan hari membawa jemari
ini mematung di atas tanda tanya besar. Lengkap dengan kisah masa lalu yang
menggantung di depan keningku yang masih mengkerut. Sembunyi-sembunyi ku tahan
“kecewa” dalam sebuah tatapan haru pada langit. Langit bilang, hidup tidak
sebatas patah hati karena gagal mendapatkan penghargaan. Hidup akan diisi lebih
banyak lagi kisah. Lebih dari sekedar sakit, lebih dari sekedar tertawa. Ini
hanya satu dari ribuan pil pahit yang harus ditelan untuk jadi hebat. Untuk
jadi sekedar “dewasa”.
Berkedip lemah, mengitari
iringan debu. Desir-desir angin menarik-narik rambutku. Ku rasakan sakit di
jantung ini. Tak terelak, mata ini juga semakin panas. Tapi aku masih belum
bisa temukan tempat untuk sekedar istirahat.
Ia menarikku untuk lebih dekat
lagi menyapu remah-remah awan yang mengelilingi tanda tanyaku. Ku angkat
tanganku dengan beban-beban yang melingkar di denyut nadi. Masih ku coba untuk
meraih apa yang ingin ku raih. Namun langit memang begitu tinggi, tak sampai ku
buka mataku kembali, akupun lelah.
Wajah-wajah itu tiba-tiba
membukakan satu pintu yang telah ku tutup rapat. Mereka mengendap-endap dan
perlahan sadarkanku dari perasaan ini. Sudut-sudut gelap di sini sudah cukup
terang untuk buatku ingat, ada hal lain yang perlu diperjuangkan selain hal
bodoh ini.
Masih meradang. Masih rasakan
panas dan begitu muak. Boleh ku bakar rumah-rumah itu? Orang-orang itu?
Mulut-mulut itu? Dan semua yang terlalu sibuk mengurusi hal konyol akan
kesibukan orang lain?
Berapa banyak lagi rasa gatal,
remuk, panas dan sesak yang harus ku berikan untuk melengkapi kebahagiaan
mereka? Setahun lagi? Lima tahun? Dua puluh tahun? Ataukah seumur hidup?
Hanya keyakinan bahwa “Allah
maha adil” yang membuatku masih mencoba untuk memakai topeng ini di depan
mereka. Sekian kalinya, ku telan lagi sabar dan ikhlas itu.
Beranjak dan menginjak-injak
kutukan hidup untuk mengeluh. Tak lebih dari sekedar omong kosong, aku ingin
tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar