Jumat, 24 Januari 2014

Waiting For the Result of UN 2013


Tinggal beberapa jam lagi pengumuman kelulusan akan diumumkan. Sekarang sekitar pukul 22.35 an. Tak bisa ku gambarkan bagaimana perasaan ini. Banyak yang menghibur untuk tetap dan selalu optimis. Dan aku juga meyakini semuanya akan baik-baik saja.. seperti apa yang aku harapkan. Kata-kata yang ku dengar dari banyak orang hari ini, membuatku mampu membangun kepercayaan. Setidaknya ini menjadikan pikiranku lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Kini entah dengan apa aku bisa bernafas dan menulis kata-kata ini dalam lembar baru yang tadinya kosong. Hanya mengikuti kata apa yang ingin ku utarakan, semuanya jadi lebih mudah.

Aku memang sempat memikirkannya, tapi aku tak lagi ingin memprediksi apa yang tidak seharusnya. Biarkan kehendak Allah yang menjawabnya. Toh apapun yang ku pikirkan, semua telah diketahui oleh NYa. Hanya dengan kepasrahan dan harapan yang besar aku berani menyatakan permohonan kelulusan. Demi siapa akupun tak mengerti mengapa kadang aku begitu takut, untuk membuka mata di hari esok. Kadang akupun berfikir untuk mengakhiri semuanya dengan satu kebodohan yang menyedihkan. Seperti manusia yang putus asa tak punya iman, pemikiran itu ada dan membayangi. Dasar setan###

Bagaimana aku besok bisa bangun? Apakah hanya dengan kehampaan? Ataukah malah dengan semangat yang begitu besar pula? Tak ada yang bisa aku jawab untuk menjawab semua ini. Sekarang aku sendiri seakan tak lagi punya nafas tenang. Aku tahu aku percaya, aku tahu aku tenang dan hatiku memahami. Entah karena apa, jauh dari balik sarafku yang  sepertinya retak itu, aku menjadi khawatir dan tak karuan. Ya aku yakin, apa yang aku kerjakan kemarin adalah kesuksesan yang telah aku perjuangkan. Dan aku berhasil mengerjakannya dengan rintihan do’a dan harapan. Meski hanya sesekali aku ingin menghentikan waktu dan kembali mengerjakanny, tapi entahlah pikiranku kembali buntu. Tidak ada yang bisa mengerti akan ketakutan ini. Banyak yang ku sembunyikan dari balik kata-kata yang kuumbar lewat keyakinan yang sebenarnya aku sendiri masih belum terlalu tegar untuk meyakininya menjadi sebuah pendirian. Namun mereka setidaknya menjadi lebih tenang dan bisa bernafas untuk bisa berfikir positif. Lagipula siapa yang percaya dengan pikiran ini?

Darimana lagi aku mencari kata. Aku sendiri begitu terpuruk bersembunyi dari rasa takut. Jangan bayangkan bagaimana itu terjadi. Hanya pikirkan saja bagaimana semuanya bisa teratasi dengan satu optimis. Boleh aku berteriak? Aku mulai lagi. Ah sudahlah…. Ini hanya perumpamaan. Semuanya masih belum terjadi. Kita boleh saja membanting pintu dan duduk di pojokan kamar yang gelap. Sambil merenungkan kemungkinan-kemungkinan gila yang harusnya mati. 

1 komentar: