Tinggal beberapa jam lagi pengumuman kelulusan akan
diumumkan. Sekarang sekitar pukul 22.35 an. Tak bisa ku gambarkan bagaimana
perasaan ini. Banyak yang menghibur untuk tetap dan selalu optimis. Dan aku
juga meyakini semuanya akan baik-baik saja.. seperti apa yang aku harapkan.
Kata-kata yang ku dengar dari banyak orang hari ini, membuatku mampu membangun
kepercayaan. Setidaknya ini menjadikan pikiranku lebih baik dari
sebelum-sebelumnya. Kini entah dengan apa aku bisa bernafas dan menulis kata-kata
ini dalam lembar baru yang tadinya kosong. Hanya mengikuti kata apa yang ingin
ku utarakan, semuanya jadi lebih mudah.
Aku memang sempat memikirkannya, tapi aku tak lagi ingin
memprediksi apa yang tidak seharusnya. Biarkan kehendak Allah yang menjawabnya.
Toh apapun yang ku pikirkan, semua telah diketahui oleh NYa. Hanya dengan
kepasrahan dan harapan yang besar aku berani menyatakan permohonan kelulusan.
Demi siapa akupun tak mengerti mengapa kadang aku begitu takut, untuk membuka
mata di hari esok. Kadang akupun berfikir untuk mengakhiri semuanya dengan satu
kebodohan yang menyedihkan. Seperti manusia yang putus asa tak punya iman,
pemikiran itu ada dan membayangi. Dasar setan###
Bagaimana aku besok bisa bangun? Apakah hanya dengan
kehampaan? Ataukah malah dengan semangat yang begitu besar pula? Tak ada yang
bisa aku jawab untuk menjawab semua ini. Sekarang aku sendiri seakan tak lagi
punya nafas tenang. Aku tahu aku percaya, aku tahu aku tenang dan hatiku
memahami. Entah karena apa, jauh dari balik sarafku yang sepertinya retak itu, aku menjadi khawatir
dan tak karuan. Ya aku yakin, apa yang aku kerjakan kemarin adalah kesuksesan
yang telah aku perjuangkan. Dan aku berhasil mengerjakannya dengan rintihan
do’a dan harapan. Meski hanya sesekali aku ingin menghentikan waktu dan kembali
mengerjakanny, tapi entahlah pikiranku kembali buntu. Tidak ada yang bisa
mengerti akan ketakutan ini. Banyak yang ku sembunyikan dari balik kata-kata
yang kuumbar lewat keyakinan yang sebenarnya aku sendiri masih belum terlalu
tegar untuk meyakininya menjadi sebuah pendirian. Namun mereka setidaknya
menjadi lebih tenang dan bisa bernafas untuk bisa berfikir positif. Lagipula
siapa yang percaya dengan pikiran ini?
Darimana lagi aku mencari kata. Aku sendiri begitu terpuruk
bersembunyi dari rasa takut. Jangan bayangkan bagaimana itu terjadi. Hanya
pikirkan saja bagaimana semuanya bisa teratasi dengan satu optimis. Boleh aku
berteriak? Aku mulai lagi. Ah sudahlah…. Ini hanya perumpamaan. Semuanya masih
belum terjadi. Kita boleh saja membanting pintu dan duduk di pojokan kamar yang
gelap. Sambil merenungkan kemungkinan-kemungkinan gila yang harusnya mati.
telo
BalasHapus