Seakan terlepas
dari bayangan embun yang terjatuh lewat lamunanku yang buta, mencari dan menengadahkan
pandangan lugu mengitari sosok manusia yang tengah berjejal dalam pikiran yang
rumit. Sesekali ku tatap ia lewat kaca jendela yang kecil,ku pikirkan apa saja
yang ku simak dari pertikaian batin malam ini, namun rasanya begitu sulit untuk
dapat mengerti pendapat dan kata hati yang berjuang menunjukkan arah. Andaikan
menjadi sesuatu yang mungkin bisa kubaca mungkin akan menjadi lebih berharga
untuk sekedar menangkap rasa takut.
Sepertinya jiwaku
tengah sakit, hingga ia tertidur dan tak ingin terbangun kembali.
Bukanlah suatu
kesengajaan jika mata ini tak kuasa menatap jerami-jerami yang tengah mengeluh
dingin merasakan cucuran air yang menembus tubuhnya semakin membuatnya
terkikis. Bukan pula suatu alasan untuk tidak mendengar ayam berkokok sedang
membusungkan dada dan menggagahkan diri lewat kenyaringan suaranya menembus
dinding kandang kawannya di seberang jalan hingga tibalah ia mendengar sautan.
Bukan, sungguh bukan itu yang sebenarnya tejadi, namun jika kau mau membuka
nurani, semua ini adalah ketika hati menjadi asing, ketika hati tidak tahu
harus menjadi siapa dan seperti apa untuk hidup dan ketika hati tengah tersesat
dalam suatu renungan yang tak bertuan. Begitu ganjil dan begitu suram. Begitu
gelap dan begitu dingin.
Mungkin tidak akan
benar jika waktu akan menjadi mimpi bersama harapan yang terlanjur beku di
dasar kekosongan hati. Seakan langit akan segera runtuh dan menimbun beberapa
wajah yang sedang terlelap. Namun sang
surya tidak juga terbangun untuk mengusir penjaga malam yang buas, yang sedang berkeliaran
menyandera mimpi-mimpi kami yang tengah berbunga. Seolah memang sengaja mereka
menghentikan kedipan kami yang telah lelah.
Hingga sekarang aku
harus merajut kepercayaan diri untuk sekedar tinggal dalam dunia yang kecil
bersama diriku sendiri. Aku mengetahui rasanya sakit itu adalah lebih dari
sekedar airmata yang jatuh. Aku merasakan ini adalah ketika hujan itu tak lagi
ada untuk menjadi penghilang rasa panas. Mungkin akan menjadi sesuatu yang tak
bisa ku mengerti hingga kicauan burung telah menyambut embun pagi yang
mengembang di atas dedaudan esok pagi.
Apakah benar ada
nafas lain yang terhembus saat aku mengucapkan kata cinta untuk sang Khalik.
Apakah benar ada jiwa-jiwa yang tengah mengerumuniku ketika aku sedang tak lagi
berdaya menunggu keajaiban. Dan apakah benar ada debu-debu suci yang terhimpit
lewat gesekan tangan dan wajahku ketika aku mengaminkan do’a dikala orang-orang
sedang mendengkur. Mungkin salah satu ruang di sana, para malaikatku tengah
menatap wajahku dengan harapan yang besar. Seiring dengan gerak bibirnya yang
tergigit pedih menahan air mata. Mungkin itu adalah isyarat untuk tidak
menangisi tubuhku yang mulai kurus sedang terkulai di atas bulu-bulu angsa yang
terselimuti kain putih, isyarat untuk tidak mendengar mulutku mengeluh ketika
rasa sakit ini kembali mencumbu kedamaian yang ku sembunyikan dalam jantungku. Aku
memang mengerti rasanya, namun aku tak mengerti cara menghentikan mereka,
karena darah yang mereka alirkan dalam nadiku menyimpan kasih sayang yang begitu
murni tanpa bisa ku hentikan dengan sendirinya. Tapi itulah yang menjadi alasan
kemungkinan mengapa tangan dari Izrail belum juga memapahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar