Telah lama aku
menunggunya dengan mata yang hampir tak pernah terpejam, hanya untuk sekedar
tahu ada apa dengan keadaannya. Namun sepertinya apa yang aku harapkan ini
tidaklah menjadi keinginan untuknya, hingga matahari munculpun ia tetap menutup
mata dan telinganya untuk tidak melihat maupun mendengarku. Harus bagaimana
untuk bisa mengetahui seberapa berartinya aku untuknya, jika tak pernah lagi
aku melangkah sejajar dengan kakinya yang dulu selalu setia menemaniku
menyusuri jalan-jalan kala kami terbiasa bersama.
Sepertinya
ini bukan lagi cinta. Bahkan aku merasa bahwa aku hanya sedang berharap. Rasa
ini membuatku sedikit cemas. Tapi aku masih saja ingin selalu menunggunya. Aku
tak pernah menghitung, setelah bulan demi bulan berlalu, sudahkah sebanyak seribu
kali aku mengucapkan “aku mencintaimu”
di dalam setiap pesan dan do’aku untuknya. Aku terlihat seperti orang bodoh,
menunggu seseorang yang mungkin saat ini sedang berusaha melupakanku. Tapi
hanya ini yang bisa ku lakukan untuk bisa mempercayai bahwa kami memang pernah
saling mencintai.
Tapi aku
semakin tak paham. Tatkala rindu ini masih terngiang dalam mimpi, kau benar
datang mengungkap misteri keberadaan. Aku lega kau masih hidup dalam bahagia
raga yang bisa ku lihat. Namun ku masih tak mengerti maksud acuh yang kau
ajarkan kala kita kembali bertemu. Seperti inikah jawaban atas pengorbanan? Seperti
inikah tanda menghargai suatu rasa? Aku sedikit sadar, aku memang bodoh
sekarang.
Ku pendam sejenak rasa ingin dalam ucapku yang
ku harap bisa terlontar. Rasanya masih sakit. Rasanya bahkan terlalu sakit.
Ku
tegarkan hati dalam memandangmu berlalu. Masih ku harap kau sedikit menoleh
melihatku yang tengah menatap. Tapi ada yang salah. Aku hanya menggenggam
bayanganmu. Kita hanyalah susunan huruf
yang tak kan lagi bisa menjelma menjadi satu. Aku bisa mengerti……….
Namun aku tak ingin mengerti…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar