Jumat, 24 Januari 2014

Take This Hurt


Telah lama aku menunggunya dengan mata yang hampir tak pernah terpejam, hanya untuk sekedar tahu ada apa dengan keadaannya. Namun sepertinya apa yang aku harapkan ini tidaklah menjadi keinginan untuknya, hingga matahari munculpun ia tetap menutup mata dan telinganya untuk tidak melihat maupun mendengarku. Harus bagaimana untuk bisa mengetahui seberapa berartinya aku untuknya, jika tak pernah lagi aku melangkah sejajar dengan kakinya yang dulu selalu setia menemaniku menyusuri jalan-jalan kala kami terbiasa bersama.

Sepertinya ini bukan lagi cinta. Bahkan aku merasa bahwa aku hanya sedang berharap. Rasa ini membuatku sedikit cemas. Tapi aku masih saja ingin selalu menunggunya. Aku tak pernah menghitung, setelah bulan demi bulan berlalu, sudahkah sebanyak seribu kali aku mengucapkan  “aku mencintaimu” di dalam setiap pesan dan do’aku untuknya. Aku terlihat seperti orang bodoh, menunggu seseorang yang mungkin saat ini sedang berusaha melupakanku. Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan untuk bisa mempercayai bahwa kami memang pernah saling mencintai.

Tapi aku semakin tak paham. Tatkala rindu ini masih terngiang dalam mimpi, kau benar datang mengungkap misteri keberadaan. Aku lega kau masih hidup dalam bahagia raga yang bisa ku lihat. Namun ku masih tak mengerti maksud acuh yang kau ajarkan kala kita kembali bertemu. Seperti inikah jawaban atas pengorbanan? Seperti inikah tanda menghargai suatu rasa? Aku sedikit sadar, aku memang bodoh sekarang.
 Ku pendam sejenak rasa ingin dalam ucapku yang ku harap bisa terlontar. Rasanya masih sakit. Rasanya bahkan terlalu sakit.

Ku tegarkan hati dalam memandangmu berlalu. Masih ku harap kau sedikit menoleh melihatku yang tengah menatap. Tapi ada yang salah. Aku hanya menggenggam bayanganmu. Kita hanyalah susunan huruf  yang tak kan lagi bisa menjelma menjadi satu. Aku bisa mengerti………. Namun aku tak ingin mengerti… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar