my fist short luck
Keberuntungan
Ada Dalam Kesempatan
Tawa bahagia, teriakan-teriakan penuh cita, semuanya terbalut gaduh akan
pesta. Itulah yang kulihat dari mereka yang menganggap ulang tahun adalah hal
terhebat untuk dirayakan. Tepat tanggal 16 Februari 1995 aku mendapatkan
kesempatan untuk pertama kalinya merayakan ulangtahunku yang paling bahagia.
Sebab saat itulah aku mendapat pelukan dan usapan lembut dari orang tuaku yang
paling hangat.
Waktu melaju, lambat laun semuanya memudar. Tak sangka,
hari keramat itu datang kembali dan ini yang ke 18 kalinya. Sungguh aku tak
lagi ingin mengulang. Sesak ku ingat waktu. Tak lagi ku berharap ulangtahun itu
terjadi di tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun yang akan datang. Ku tak
ingin umur ini bertambah jika aku tahu hidupku akan berubah seiring rentanya waktu.
Pagi
menyambut, aku menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka, tak sengaja ku
dengar percakapan Ayah dan Ibu di ruang makan.
“Diam!
Tidak usah banyak bicara! Urus urusanmu sendiri.”
“Terserah!
kau memang sok pintar!”
“Siapa
yang peduli!! Pergi..pergi saja tidak usah banyak bicara. Aku sudah muak!”
Serasa
petir baru saja menghanguskanku. Begitu keras dan terasa sakit di telinga
mendengar “Diskusi Ekstrim” orangtuaku pada hari keramat. Yah, mereka sedang
bertengkar bahkan bisa dibilang sangat sering bertengkar. Tak peduli waktu, mereka
kerap kali mengumandangkan pertengkaran hebat yang membuatku gila. Mungkin
mereka mempertahankan keegoisan dan harga diri. Selebihnya entah apa yang
mereka pikirkan, aku tak pernah tahu.
Yang
aku lihat banyak perabot dan hiasan-hiasan rumah hancur berantakan menjadi
korban pelampiasan amarah saat Ayah pulang ke rumah. Entah karena apa mereka
begitu. Entah karena apa mereka tak lagi menjadi Ayah dan Ibuku yang dulu, memberiku perhatian dan kelembutan bukan
seperti sekarang. Seakan semua berubah menjadi neraka yang dibalut atas nama
keluarga.
Aku
berusaha keras, untuk terbiasa dengan kondisi ini dalam waktu bertahun-tahun.
Bahkan ini menjadi makanan ringan yang begitu pahit untuk disantap menjadi
pelengkap semangat. Suatu hari aku menanyakan alasan kepulangan Ayah yang tidak
menentu kepada Ibu. Ibu hanya menjelaskan bahwa mereka tak lagi akur dan aku
berumur 12 tahun, barulah bisa menyadari makna penjelasan itu adalah perceraian.
Melihatku
yang tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mereka tak lagi meneruskan
pembicaraan sengit. Namun Ayah tiba-tiba keluar rumah sembari memasang wajah
emosi tanpa bicara sepatahpun.
“Aku
berangkat,bu. Nanti aku pulang agak sore.” Pamitku pada ibu yang mematung di
samping rak buku.
Aku
menghampiri dan mencium tangannya kemudian memandangnya sebentar. Ibu hanya
diam dengan pandangan kosong. Aku miris dan pikiranku seakan runtuh.
“Semangat.....semangat...”
Sambil menampari wajahku yang muram sepanjang jalan.
“Apaan
nih..?” Aku tertarik untuk mengambil selebaran yang berlumuran minyak goreng
tergeletak di pinggir jalan.
“IKUTI
LOMBA MENULIS PUISI YUK, TEMANYA BEBAS, HADIAHNYA UANG TUNAI SENILAI
Rp.600.000,00 lhoooo....UNTUK 2 ORANG PEMENANG......”
“Wah..
kesempatan emas nih. Persayaratannya juga ga berat-berat amat. Ikutan ah……..”
Panjang
waktu terlewati sudah. Hari pengumuman lomba itu akhirnya tiba. Aku hanya
diliputi rasa pesimis, mengingat karya-karya puisiku biasanya hanya sebatas
pelengkap mading sekolah yang jarang diperhatikan apalagi diapresiasikan. Ku
bimbing pandangan mataku mencari namaku yang mungkin tertulis pada salah satu
baris, dan Alhamdulillah namaku tertulis menjadi pemenang kedua.
Sesaat aku berfikir tentang keadilan yang Allah berikan.
Dari lomba itu, membuatku menyesal pada hari-hari yang lalu, saat aku menjadi
orang bodoh yang menyia-nyiakan waktu dengan percuma. Hidup ini memang tak adil
jika kita selalu membenarkan apa yang kita pikirkan. Keluargaku memang berubah
tapi masa depan harus lebih baik. Padahal apa yang membuatku sakit adalah apa
yang membuatku kuat. Kini aku percaya pada keberuntungan, dimana kebahagiaan
bukan tentang apa yang kita dapat, tapi apa yang kita cari. Aku bertekad akan
mengubah duniaku dengan lebih banyak prestasi hingga hari keramatku yang ke 25
aku telah menjadi psikolg dan dapat memahami alasan orangtuaku memilih bercerai
dibanding bahagia bersama.
ini cerpen kedua saya yang memberikan saya pelajaran banyak. saya berterimakasih pada Bu. Endang yang telah memberikan saya banyak sekali nasihat dan semangat untuk tetap berkarya dari awal perjuangan saya di kelas teater dan tulis menulis. hingga hari ini saya bisa berbuat banyak... untuk melejitkan potensi saya. terimakasih...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar