Minggu, 19 Januari 2014

Keberuntungan Ada Dalam Kesempatan


my fist short luck

Keberuntungan Ada Dalam Kesempatan
Tawa bahagia, teriakan-teriakan penuh cita, semuanya terbalut gaduh akan pesta. Itulah yang kulihat dari mereka yang menganggap ulang tahun adalah hal terhebat untuk dirayakan. Tepat tanggal 16 Februari 1995 aku mendapatkan kesempatan untuk pertama kalinya merayakan ulangtahunku yang paling bahagia. Sebab saat itulah aku mendapat pelukan dan usapan lembut dari orang tuaku yang paling hangat.
            Waktu melaju, lambat laun semuanya memudar. Tak sangka, hari keramat itu datang kembali dan ini yang ke 18 kalinya. Sungguh aku tak lagi ingin mengulang. Sesak ku ingat waktu. Tak lagi ku berharap ulangtahun itu terjadi di tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun yang akan datang. Ku tak ingin umur ini bertambah jika aku tahu hidupku akan berubah seiring rentanya waktu.
Pagi menyambut, aku menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka, tak sengaja ku dengar percakapan Ayah dan Ibu di ruang makan.
            “Diam! Tidak usah banyak bicara! Urus urusanmu sendiri.”
“Terserah! kau memang sok pintar!”
“Siapa yang peduli!! Pergi..pergi saja tidak usah banyak bicara. Aku sudah muak!”
Serasa petir baru saja menghanguskanku. Begitu keras dan terasa sakit di telinga mendengar “Diskusi Ekstrim” orangtuaku pada hari keramat. Yah, mereka sedang bertengkar bahkan bisa dibilang sangat sering bertengkar. Tak peduli waktu, mereka kerap kali mengumandangkan pertengkaran hebat yang membuatku gila. Mungkin mereka mempertahankan keegoisan dan harga diri. Selebihnya entah apa yang mereka pikirkan, aku tak pernah tahu.
Yang aku lihat banyak perabot dan hiasan-hiasan rumah hancur berantakan menjadi korban pelampiasan amarah saat Ayah pulang ke rumah. Entah karena apa mereka begitu. Entah karena apa mereka tak lagi menjadi Ayah dan Ibuku yang dulu,  memberiku perhatian dan kelembutan bukan seperti sekarang. Seakan semua berubah menjadi neraka yang dibalut atas nama keluarga.
Aku berusaha keras, untuk terbiasa dengan kondisi ini dalam waktu bertahun-tahun. Bahkan ini menjadi makanan ringan yang begitu pahit untuk disantap menjadi pelengkap semangat. Suatu hari aku menanyakan alasan kepulangan Ayah yang tidak menentu kepada Ibu. Ibu hanya menjelaskan bahwa mereka tak lagi akur dan aku berumur 12 tahun, barulah bisa menyadari makna penjelasan itu adalah perceraian.
Melihatku yang tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mereka tak lagi meneruskan pembicaraan sengit. Namun Ayah tiba-tiba keluar rumah sembari memasang wajah emosi tanpa bicara sepatahpun.
“Aku berangkat,bu. Nanti aku pulang agak sore.” Pamitku pada ibu yang mematung di samping rak buku.
Aku menghampiri dan mencium tangannya kemudian memandangnya sebentar. Ibu hanya diam dengan pandangan kosong. Aku miris dan pikiranku seakan runtuh.
“Semangat.....semangat...” Sambil menampari wajahku yang muram sepanjang jalan.
“Apaan nih..?” Aku tertarik untuk mengambil selebaran yang berlumuran minyak goreng tergeletak di pinggir jalan.
“IKUTI LOMBA MENULIS PUISI YUK, TEMANYA BEBAS, HADIAHNYA UANG TUNAI SENILAI Rp.600.000,00 lhoooo....UNTUK 2 ORANG PEMENANG......”
“Wah.. kesempatan emas nih. Persayaratannya juga ga berat-berat amat. Ikutan ah……..”
Panjang waktu terlewati sudah. Hari pengumuman lomba itu akhirnya tiba. Aku hanya diliputi rasa pesimis, mengingat karya-karya puisiku biasanya hanya sebatas pelengkap mading sekolah yang jarang diperhatikan apalagi diapresiasikan. Ku bimbing pandangan mataku mencari namaku yang mungkin tertulis pada salah satu baris, dan Alhamdulillah namaku tertulis menjadi pemenang kedua.
Sesaat aku berfikir tentang keadilan yang Allah berikan. Dari lomba itu, membuatku menyesal pada hari-hari yang lalu, saat aku menjadi orang bodoh yang menyia-nyiakan waktu dengan percuma. Hidup ini memang tak adil jika kita selalu membenarkan apa yang kita pikirkan. Keluargaku memang berubah tapi masa depan harus lebih baik. Padahal apa yang membuatku sakit adalah apa yang membuatku kuat. Kini aku percaya pada keberuntungan, dimana kebahagiaan bukan tentang apa yang kita dapat, tapi apa yang kita cari. Aku bertekad akan mengubah duniaku dengan lebih banyak prestasi hingga hari keramatku yang ke 25 aku telah menjadi psikolg dan dapat memahami alasan orangtuaku memilih bercerai dibanding bahagia bersama. 

ini cerpen kedua saya yang memberikan saya pelajaran banyak. saya berterimakasih pada Bu. Endang yang telah memberikan saya banyak sekali nasihat dan semangat untuk tetap berkarya dari awal perjuangan saya di kelas teater dan tulis menulis. hingga hari ini saya bisa berbuat banyak... untuk melejitkan potensi saya. terimakasih... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar