Apa yang dikatakan orang lain
tentang siapa dirimu adalah benar. Sebab mereka merasa lebih tahu siapa yang
mereka lihat dari apa yang kau tampakkan. Wajah buram, tanpa senyum, dan tak
ada keramahan. Itulah dirirmu. Dalam benak banyak orang yang mengenalmu, kau
hanyalah seorang manusia yang hanya punya dunia sebatas sebuah ruang kamar, dan
seorang teman yang tak lain adalah dirimu sendiri. Selebihnya jika kau merasa
sesak dengan ini semua, kau hanya perlu membangun dunia fantasi yanag kau sebut
dengan “mendengarkan”. Begitu banyak music, suara, bunyi-bunyian, bahkan
keheningan yang bisa kau dengarkan, dan tentu saja favoritmu adalah yang
terakhir. Bercinta dengan keheningan.

Bagimu, mencetak mimpi indah
adaalah bagian dari nafas yang yang kau hirup setiap harinya, berjuangpun adalah
bagian dari kelopak matamu yang terbuka, tapi ada satu bagian dari hidup dan
mimpi indah yang seringnya saling berbentur menjadi sebatas mimpi. Dan
begitulah akhirnya, mimpimu, hidupmu, dan takdirmu, menyusul lembar jawaban
yang bertulis kegagalan. Lagi-lagi orang-orang itu mulai sibuk berbisik dan
mengoceh hal gila yang hanya membuat lubang di telingamu semakin dangkal.
Hingga tak bisa kau dengar bahkan membedakan satu dari banyaknya omongan mereka
yang masuk akal. Lantas kau memilih diam, dan menggerutu, mengumpat, dan memaki
mereka semua dalam hatimu, dalam ruang hampa, dan tempat yang lapang. Begitulah
ceritamu dengan dirimu sendiri. Ingin bisa merasakan lebih bahagia, namun harus
terjerembab di banyak paku. Sekalipun itu hanya satu langkah. Harus banyak
darah yang mengucur di banyak lubang tubuhmu untuk sekedar terlihat “ada”
meskipun kau tak benar-benar di ‘situ’.
Kau sulit mencari jalan untuk
keluar dari pikiranmu yang kolot, yang hanya ingin menyendiri, padahal kau tahu
banyak orang di luar sana yang menyenangkan untuk diajak menghitung detik
menjadi hal yang berharga, lagi-lagi kau memilih jalan gila untuk jadi beku dan
jikalaupun kau telah meleleh itu hanya karena dirimu sendiri yang ingin pergi
dari rasa dingin.
Berjalan dan berjalan, menarik
nafas lalu mencoba lagi untuk berlari lebih kencang, tiba-tiba langit runtuh
dan bumi menghimpit. Semua kefanaan yang berhasil kau bangun, tak bisa bertahan
lama untuk menjadi penghibur. Tak cukup untuk membuatmu tenang dalam jam-jam senja,
tak cukup membuatmu terbaring dengan detak jantung teratur, tak cukup untuk
membuat matamu hanya menuju satu arah dan melamunkan kelampauan, tak cukup
membuatmu tersenyum dengan batin yang tak menjerit-jerit, tak cukup, dan tak
akan cukup, tak akan pernah cukup membuatmu hidup tenang sekalipun kau dapatkan
apa yang kau inginkan. Ini semua karena terlalu banyak dunia yang telah kau
bangun, dan kau tak sempat menenggak minuman yang disuguhkan takdir. Kau sadar
kau telah kalah, kau sadar semua hanya bagian dari tindakan pembunuhan akan
banyaknya ilusi dan anggapan, kau sadar semua akan berakhir seperti apa, kau
tahu semuanya, tapi kau tak pernah ingin percaya sebelum cairan takdir itu
benar-benar kau tenggak kemudian mengalir dalam kerongkongan keringmu, kau
masih tak akan percaya sebelum kau ditampar dan merasakan apa yang hatimu
korbankan ternyata hanyalah gas yang hanya sekejab. Mungkin itu bagian dari
dirimu, atau sama sekali bukan, tapi itulah sepenuhnya diriku. Aku. Erviana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar