Aku selalu mendambanya. Berharap lebih
pada sekedar hubungan dekat. Sesekali aku menciptakan dunia gila, yang
menculiknya menjadi pemilik perasaan ini. Mungkin lebih baik lagi jika aku bisa
menyentuh dan memegang tangannya dengan erat. Bisa menyandarkan lelahku dan
mengucap semua kerisauan. Bisa mengusap rambutnya dengan lembut lalu tersenyum
di depan kacamatanya. Bisa memegang kedua pipinya dan melihat lebih dekat
senyum manisnya. Hingga bisa kuucapkan segala kata yang bisa mewakili perasaan
yang tlah terkubur begitu lama.
Sungguh malam yang panjang, tiap kali
aku menyandera hatiku bersama dirinya yang tak mungkin termiliki. Sedang jalan
yang ku tempuh begitu panjang, dan hanya dia yang membuatku lupa bagaimana
lelah itu.
Setiap hari melihatnya dengan cara
berbeda namun selalu dengan rasa yang sama. Betapa ini sungguh sangat
menggangguku. Dan dia tak pernah membuat ini menjadi lebih mudah. Mungkin ia
tahu, bagaimana aku mencuri bayangannya secara tereselubung. Tapi sekalipun
tidak, aku tak pernah berharap lebih pada kenyataan untuk mewujudkan semua ini.
Kita terlalu berbeda.
Masih ada sisa harapan untuk bertahan
menjadi patung hidup yang mencintai atas nama RAHASIA.
Karena ia begitu jauh dari apa yang
seharusnya aku cari. Tentu saja ini tentang siapa aku dan siapa dia. Ada jarak
yang jauh antara sisi kepantasan dibalik segala keindahan mata dan yang
menyenangkan hati. Begitulah cinta ini terbunuh dengan sendirinya. Hanya dengan
kesadaran.
Tentu saja, masih ada keinginan untuk
menjaga waktu bersamanya, tapi tak akan ku biarkan lebih dari sekedar mimpi.
Karena aku tak tahu, bagaimana caranya memandangku.
Selagi aku bisa melihatmu tersenyum,
melihatmu membasahi rambut di sore hari, memandangmu lewat lirikan, dan
menyentuhmu secara tak sengaja, aku bisa katakan pada hari esok bahwa aku bisa
bahagia dengan “dirimu” yang tak mungkin “termiliki”.
(Love You)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar