Senin, 21 April 2014

Choice of random


Akan ku jelajahi waktu dengan menunggu datangnya nada cinta yang kau ucap.
Mungkin bukan karena kamu yan g tak mau mengerti dengan naluri dan perasaan yang sebenarnya..
Janji setia hanya akan menjadi kenangan manis yang tak memiliki rangkaian arti nyata
Kemana dirimu yang dulu tak akan bisa lagi aku temukan,
Seakan jalan manapun telah buntu untuk bisa membuka cakrawala kebahagiaan
Hilangnya dirimu akan memberi satu paragraf baru dalam cerita kegagalan
Berandai-andai dengan masa lalu..
Bercerita dengan irama sesal yang melayukan 
Ada yang terkelupas tiap harinya ketika ingatan tentangmu bersemi
Hanya ketakutan yang menyempurnakan ketidakyakinan
Sudahkah ada tangan lain yang menggenggam tanganmu?
Sudahkah ada mata lain yang memperhatikanmu selain mataku?
aku tidak yakin namun aku berharap tidak

say Hi to them


Love of PAREnt
Tidak ada nama yang tak mengandung harapan. Tentu saja harapan dan do’a orangtualah yang pertama dan selalu menyertainya. Mungkin karena itu pula banyak orang yang mengatakan bahwa nama itu adalah hal keramat yang harus dipertimbangkan dengan matang setelah kelahiran bayi. Sebab nama akan mempengaruhi rezeki dan nasib seseorang. Percaya atau tidak itu hanya masalah pendapat dan itu bukan masalah. Tapi orang Jawa kebanyakan sangat mempercayai hal tersebut. Apalagi orang-orang zaman dahulu Entah darimana teori itu pertama kali tercetus.
Yah, apapun namanya prinsipnya tetap bersyukur deh. Yang penting juga bukan nama, tapi arti dibalik sebuah nama. Yup, seperti yang aku bilang, do’a dan harapan orang tua.
Harapan orang tua itu sangat tinggi pada setiap anaknya. Hmmh lebih dari sekedar usaha untuk mendapatkan materi demi memenuhi kebutuhan beragam kita, kadang harga diripun juga tak terelak untuk diabaikan demi sebuah kesempatan “membahagiakan” sang buah hati. hah.. ga ada habisnya, ngebahas jasa orang tua ya. Mau dimulai dari manapun, pasti kita ga dapat ujungnya.
Sebelumnya, ucapin Alhamdulillah dulu deh buat apa yang udah kita nikmatin sekarang, apa yang kita punya, apa yang kita rasakan. Jangan lupa juga, selalu doakan orang tua agar diberi kesehatan dan kesejahteraan dunia akhirat. Amin.
Kadang kita punya sejuta lebih alasan untuk menjelaskan mengapa kita berbeda dari orang lain. Dari segi harta? Bentuk fisik? Warna kulit? Latar belakang? Dan sederet lagi ocehan ga penting untuk mencari aman. Ga bisa dipungkiri juga, banyak dari kita yang muda terutama ABG nih, masih sering “susah” untuk nerima kondisi “sebenarnya”. Langsung saja, saya mau bahas temen2 saya yang rada “gila” nih.
Cantik, modis, dan always up to date about anything of girly. That’s a girl. Semua gadis pengen deh jadi kaya gitu. But, can’t talk too much, money is the point of everything what I said. Apalagi di tahun2 2013/14 ini “overdosis” paku payung yang namanya Korean style. Sayang banget nih, temen aku ga cukup antisipasi dengan “banjir” trend yang bikin perilaku jadi makin konsumtif. Gila aja! demi jadi “gaul” duit SPP musti dikuntit buat beli baju, aksesoris, dan barang2 yang ga penting. Ngibulin ortu juga udah kaya makan snack deh, ga ada berat2nya. Mau sekaya/semiskin apapun orang tua, ini tetep jadi masalah ya, soalnya ini udah nyangkut perkara Perilaku, ntar jatohnya ke Habit alias kebiasaan terus bisa lebih emergency lagi kalo ini jadi Karakter.
Deuuh sebenernya banyak sih, temen2 aku yang masih gila. Ga ngehargain orangtua meskipun jasanya tuh udah di depan mata. Kadang Cuma gara2 orang2 ga penting,urusan sepele, bahkan hal konyol kita rela aja tuh mulut seenaknya ngomong keras2 ma orang tua. Inget, kualat ya. Mau ga mau, perilaku kita di masyarakat juga bakal dinilai sebagai cermin dari “cara” orang tua mengajari kita dalam mendidik karakter. So, jangan sampai orang lain memberikan penilaian negative terhadap orang tua kita hanya karena kita tidak pintar2 membawa diri/bersikap di depan public ya.
Udah deh, cukup segini dulu bahas soal orang tua. Intinya.. seberapa banyak orang tua berbuat salah pada kita, seberapa banyak itulah mereka mengajari kita menjadi orang yang lebih baik. Setiap orang tua punya cara sendiri untuk menunjukkan sayang pada anaknya, tidak perlu kita membanding-bandingkannya dengan orang tua lain, yang perlu kita lakukan jadilah anak yang lebih baik dari anak lain yang sering dibanding-bandingkan dengan kita. Jika Cinta Itu Abadi, Maka Cinta Itu Ada Di Hati Orang Tua Pada Anaknya. Jika Cinta Itu Tulus Maka Itu Ada Di Kasihsayang Orang Tua Pada Anaknya. Maka muliakanlah orang tua kita ya.
NB : buat temen2 yang masih kurang perhatian ma orang tuanya, semoga hari ini bisa lebih baik lagi. Setidaknya, bisa bilang,”terimakasih” pada mereka ya. J

Kebahagiaan


( 4/21/2014 11:24:22 PM ) Semua orang tak akan pernah tahu bagaimana takdir membawa mereka. Sejauh mana kaki berjalan hanyalah terjawab untuk sebuah perjalanan hidup. Menyeberangi waktu demi sebuah keinginan atau hanya mengikuti arah. Entah bagaimana menghentikan ini, tapi serasa tak ada jalan lain terkecuali terus dan terus bergerak.
Sudah banyak orang yang kita temui meski hanya untuk singgah sekejab. Mereka memberi banyak sekali cerita untuk didaur ulang menjadi sebuah kenangan. Namun tak sedikit dari mereka memberikan duri dalam cerita. Hanya tersisa satu cara untuk bisa tersenyum sembari menikmati tusukan duri dalam daging. Bersembunyi dalam topengmu. Hingga kau punya jalan keluar untuk berteriak dan mengamuk sejadi-jadinya dalam hati.
Semua orang boleh “menilai” dari sisi mana aku dikatakan baik atau buruk. lagipula bagiku tak ada kebebasan untuk memilih bahagia, selain berfikir ulang dan mencatat kembali siapa aku sebenarnya. Kita mungkin sama, tapi semua dibuat sulit oleh rasa ingin memiliki. Aku tak ingat bagaimana menjadi pribadi yang menyenangkan. Aku tak bisa menjadi bagian dari dunia itu. Dimana kau bebas berekspresi dengan apa yang kau kehendaki. Tidak bisa.
Ada banyak tekanan di sini. Mendidih dan menguap dalam wadah tertutup. Begitu panas dan sukar untuk bisa keluar. Mungkin mereka butuh rasa senang, penghargaan, rasa dicintai, ditinggikan, dihargai, atau semacamnya. Dan ku rasa mereka bisa melakukan itu hanya seperti berjalan dengan cangkang yang mereka kenakan begitu saja tanpa membawa berat-berat perasaan orang lain. Mereka bilang, “jadilah dirimu sendiri.” “ini emang gaya gue.” “gue emang begini.” Disertai tambahan kata tanya yang menurutku begitu sombong,”kenapa? Ga suka? Masalah buat lo?” hmmmh…
Dari situ aku baru berfikir ulang dengan jalan pikiran dan pilihan orang-orang. Aku hanya prihatin dan kasihan pada orang seperti diriku ini. Jika mereka semua demikian maka orang seperti aku ini akan hidup dengan cara apa?
Kebahagiaan tak selalu harus dimengerti, ditunjukkan, diberikan alasan, bahkan dijawab. Selama orang lain bisa tersenyum dihadapanmu, maka mudah saja merasakannya bukan?! Bahkan mereka mau melihatmu sebentar, bukankah itu adalah sebuah kehidupan sederhana yang memberikan rasa teduh? Ku pikir hidup itu simple. Hanya sebuah permainan yang diberi aturan sebagaimana kepercayaan dan etika yang dianut masing-masing orang. Kita hanya berjalan sebagaimana aturan itu bicara. Sedang hasil menang kalah hanyalah sebuah “nilai” inti seberapa kuat kau bertahan menjadi orang yang paham akan makna dan tujuan hidupmu.

Jalan untuk Pulang


Strong Is Candid There

Lengkungan hari membawa jemari ini mematung di atas tanda tanya besar. Lengkap dengan kisah masa lalu yang menggantung di depan keningku yang masih mengkerut. Sembunyi-sembunyi ku tahan “kecewa” dalam sebuah tatapan haru pada langit. Langit bilang, hidup tidak sebatas patah hati karena gagal mendapatkan penghargaan. Hidup akan diisi lebih banyak lagi kisah. Lebih dari sekedar sakit, lebih dari sekedar tertawa. Ini hanya satu dari ribuan pil pahit yang harus ditelan untuk jadi hebat. Untuk jadi sekedar “dewasa”.
Berkedip lemah, mengitari iringan debu. Desir-desir angin menarik-narik rambutku. Ku rasakan sakit di jantung ini. Tak terelak, mata ini juga semakin panas. Tapi aku masih belum bisa temukan tempat untuk sekedar istirahat.

Ia menarikku untuk lebih dekat lagi menyapu remah-remah awan yang mengelilingi tanda tanyaku. Ku angkat tanganku dengan beban-beban yang melingkar di denyut nadi. Masih ku coba untuk meraih apa yang ingin ku raih. Namun langit memang begitu tinggi, tak sampai ku buka mataku kembali, akupun lelah.
Wajah-wajah itu tiba-tiba membukakan satu pintu yang telah ku tutup rapat. Mereka mengendap-endap dan perlahan sadarkanku dari perasaan ini. Sudut-sudut gelap di sini sudah cukup terang untuk buatku ingat, ada hal lain yang perlu diperjuangkan selain hal bodoh ini.
Masih meradang. Masih rasakan panas dan begitu muak. Boleh ku bakar rumah-rumah itu? Orang-orang itu? Mulut-mulut itu? Dan semua yang terlalu sibuk mengurusi hal konyol akan kesibukan orang lain?

Berapa banyak lagi rasa gatal, remuk, panas dan sesak yang harus ku berikan untuk melengkapi kebahagiaan mereka? Setahun lagi? Lima tahun? Dua puluh tahun? Ataukah seumur hidup?
Hanya keyakinan bahwa “Allah maha adil” yang membuatku masih mencoba untuk memakai topeng ini di depan mereka. Sekian kalinya, ku telan lagi sabar dan ikhlas itu.
Beranjak dan menginjak-injak kutukan hidup untuk mengeluh. Tak lebih dari sekedar omong kosong, aku ingin tersenyum. 

apa yang harus dipilih??


Tak banyak yang bisa ku ceritakan tentangmu. Terlalu indah, terlalu lembut, dan terlalu banyak episode palsu. Entahlah, apa maksud Tuhan mempertemukan kita. aku menjadi hiburan? Ataukah kau yang jadi hiburan? Semua begitu kaku. Tak ada yang bisa diyakini tentang apa yang telah diucapkan. Siapa yang bisa menjamin akan sebuah kebahagiaan jika hanya ditawar dengan janji? Kau dan aku adalah tawanan sandiwara perasaan. Aku tak berani berharap, ini menjadi lebih baik. Dan aku lebih berharap kau tak berkeinginan untuk berjalan lebih jauh lagi.
Percayalah cinta itu benar-benar penipu saat kau bicara sambil bermimpi. Sementara kau mengoceh akan perasaanmu tentang cinta itu sendiri, ia akan memberikanmu harapan-harapan yang terus mengindahkan apa yang ku anggap salah. Kau tak selalu benar. Apalagi aku. Apalagi cinta. Apalagi angan-angan ini.  Lalu apalagi yang perlu dipercayai?
Percayalah, tak banyak yang bisa ku bagi selain rasa bosan, sakit hati, kecewa, dan banyak lagi hal-hal menyedihkan. Kau tidak akan sekuat itu. Setebal apapun telingamu, ia akan jengah juga. Seberapapun kuat kau melapisi hatimu dengan perasaan cinta, ku yakin tak akan sanggup menahan sikapku yang tak bisa dimengerti. Sudahlah, lepaskan keyakinan itu.
Jika bersamaku berharap ada dunia baru yang lebih menyenangkan, maka tak akan pernah. Aku cantik hanya dengan versi cerminku sendiri, aku kaya hanya dengan tangan kosong, aku baik hanya dengan kata “apa yang bisa ku bantu?”, aku menyenangkan hanya dengan memahami dan mengalah, aku pendiam hanya dengan kesadaran aku bukan apa-apa, aku cerewet hanya dengan ingin dianggap. Nah, pilihlah.. adakah yang special dari seorang gadis kusam sepertiku? percayalah, aku begitu melelahkan.
Cinta yang ku cari hanyalah seperti udara. Tak perlu ku sebut seberapa banyak, tapi aku selalu membutuhkannya untuk bertahan. Dan aku tahu, cintamu tak demikian. ( T_T)

Sabtu, 12 April 2014

missunderstanding

Harusnya ini menjadi lebih mudah, saat kau sudah dapatkan, apa yang kau impikan dan dapat dikatan dengan cara yang lebih mudah. Itu membuatmu lebih bergairah seakan dengan banyak mimpi kau bisa mengubah takdirmu  menjadi sebuah keajaiban yang nyata. Tapi bukan berarti hanya dengan ambisi rutinitas ini adalah menjadi pilihan hidup yang membuatmu mengerti bagaimana menjadi orang yang sewajarnya tanpa ada batasan berbeda. Kau adalah dunia yang luas.
Jika mata tidak memberikanmu hal yang menyenangkan maka berikan pandangan itu pada telinga, sebab telinga tak akan bicara hal yang menyakitkan . begitulah hidup ini berjalan, bertemu banyak orang dengan ragam kepribadian yang luas, mereka memberikan banyak goresan tinta dalam buku kehidupanmu. Mereka menguatkanmu, sesekali sebaliknya. Membuatmu tak mengerti mengapa hidup hanya ada dua jalan. Terus berjalan ataukah berhenti dan pasrah…