Tidak
ada nama yang tak mengandung harapan. Tentu saja harapan dan do’a orangtualah
yang pertama dan selalu menyertainya. Mungkin karena itu pula banyak orang yang
mengatakan bahwa nama itu adalah hal keramat yang harus dipertimbangkan dengan
matang setelah kelahiran bayi. Sebab nama akan mempengaruhi rezeki dan nasib
seseorang. Percaya atau tidak itu hanya masalah pendapat dan itu bukan masalah.
Tapi orang Jawa kebanyakan sangat mempercayai hal tersebut. Apalagi orang-orang
zaman dahulu Entah darimana teori itu pertama kali tercetus.
Yah,
apapun namanya prinsipnya tetap bersyukur deh. Yang penting juga bukan nama,
tapi arti dibalik sebuah nama. Yup, seperti yang aku bilang, do’a dan harapan
orang tua.
Harapan
orang tua itu sangat tinggi pada setiap anaknya. Hmmh lebih dari sekedar usaha
untuk mendapatkan materi demi memenuhi kebutuhan beragam kita, kadang harga
diripun juga tak terelak untuk diabaikan demi sebuah kesempatan “membahagiakan”
sang buah hati. hah.. ga ada habisnya, ngebahas jasa orang tua ya. Mau dimulai
dari manapun, pasti kita ga dapat ujungnya.
Sebelumnya,
ucapin Alhamdulillah dulu deh buat apa yang udah kita nikmatin sekarang, apa
yang kita punya, apa yang kita rasakan. Jangan lupa juga, selalu doakan orang
tua agar diberi kesehatan dan kesejahteraan dunia akhirat. Amin.
Kadang
kita punya sejuta lebih alasan untuk menjelaskan mengapa kita berbeda dari
orang lain. Dari segi harta? Bentuk fisik? Warna kulit? Latar belakang? Dan
sederet lagi ocehan ga penting untuk mencari aman. Ga bisa dipungkiri juga,
banyak dari kita yang muda terutama ABG nih, masih sering “susah” untuk nerima
kondisi “sebenarnya”. Langsung saja, saya mau bahas temen2 saya yang rada
“gila” nih.
Cantik,
modis, dan always up to date about anything of girly. That’s a girl. Semua
gadis pengen deh jadi kaya gitu. But, can’t talk too much, money is the point
of everything what I said. Apalagi di tahun2 2013/14 ini “overdosis” paku
payung yang namanya Korean style. Sayang banget nih, temen aku ga cukup
antisipasi dengan “banjir” trend yang bikin perilaku jadi makin konsumtif. Gila
aja! demi jadi “gaul” duit SPP musti dikuntit buat beli baju, aksesoris, dan
barang2 yang ga penting. Ngibulin ortu juga udah kaya makan snack deh, ga ada
berat2nya. Mau sekaya/semiskin apapun orang tua, ini tetep jadi masalah ya,
soalnya ini udah nyangkut perkara Perilaku, ntar jatohnya ke Habit alias
kebiasaan terus bisa lebih emergency lagi kalo ini jadi Karakter.
Deuuh
sebenernya banyak sih, temen2 aku yang masih gila. Ga ngehargain orangtua
meskipun jasanya tuh udah di depan mata. Kadang Cuma gara2 orang2 ga
penting,urusan sepele, bahkan hal konyol kita rela aja tuh mulut seenaknya
ngomong keras2 ma orang tua. Inget, kualat ya. Mau ga mau, perilaku kita di
masyarakat juga bakal dinilai sebagai cermin dari “cara” orang tua mengajari
kita dalam mendidik karakter. So, jangan sampai orang lain memberikan penilaian
negative terhadap orang tua kita hanya karena kita tidak pintar2 membawa
diri/bersikap di depan public ya.
Udah
deh, cukup segini dulu bahas soal orang tua. Intinya.. seberapa banyak orang
tua berbuat salah pada kita, seberapa banyak itulah mereka mengajari kita
menjadi orang yang lebih baik. Setiap orang tua punya cara sendiri untuk
menunjukkan sayang pada anaknya, tidak perlu kita membanding-bandingkannya
dengan orang tua lain, yang perlu kita lakukan jadilah anak yang lebih baik
dari anak lain yang sering dibanding-bandingkan dengan kita. Jika Cinta Itu Abadi, Maka Cinta Itu
Ada Di Hati Orang Tua Pada Anaknya. Jika Cinta Itu Tulus Maka Itu Ada Di
Kasihsayang Orang Tua Pada Anaknya. Maka muliakanlah orang tua kita ya.
NB
: buat temen2 yang masih kurang perhatian ma orang tuanya, semoga hari ini bisa
lebih baik lagi. Setidaknya, bisa bilang,”terimakasih” pada mereka ya. J