Senin, 22 Agustus 2016

The Grey Side of Me


Apa yang dikatakan orang lain tentang siapa dirimu adalah benar. Sebab mereka merasa lebih tahu siapa yang mereka lihat dari apa yang kau tampakkan. Wajah buram, tanpa senyum, dan tak ada keramahan. Itulah dirirmu. Dalam benak banyak orang yang mengenalmu, kau hanyalah seorang manusia yang hanya punya dunia sebatas sebuah ruang kamar, dan seorang teman yang tak lain adalah dirimu sendiri. Selebihnya jika kau merasa sesak dengan ini semua, kau hanya perlu membangun dunia fantasi yanag kau sebut dengan “mendengarkan”. Begitu banyak music, suara, bunyi-bunyian, bahkan keheningan yang bisa kau dengarkan, dan tentu saja favoritmu adalah yang terakhir. Bercinta dengan keheningan.

Bagimu, mencetak mimpi indah adaalah bagian dari nafas yang yang kau hirup setiap harinya, berjuangpun adalah bagian dari kelopak matamu yang terbuka, tapi ada satu bagian dari hidup dan mimpi indah yang seringnya saling berbentur menjadi sebatas mimpi. Dan begitulah akhirnya, mimpimu, hidupmu, dan takdirmu, menyusul lembar jawaban yang bertulis kegagalan. Lagi-lagi orang-orang itu mulai sibuk berbisik dan mengoceh hal gila yang hanya membuat lubang di telingamu semakin dangkal. Hingga tak bisa kau dengar bahkan membedakan satu dari banyaknya omongan mereka yang masuk akal. Lantas kau memilih diam, dan menggerutu, mengumpat, dan memaki mereka semua dalam hatimu, dalam ruang hampa, dan tempat yang lapang. Begitulah ceritamu dengan dirimu sendiri. Ingin bisa merasakan lebih bahagia, namun harus terjerembab di banyak paku. Sekalipun itu hanya satu langkah. Harus banyak darah yang mengucur di banyak lubang tubuhmu untuk sekedar terlihat “ada” meskipun kau tak benar-benar di ‘situ’.
Kau sulit mencari jalan untuk keluar dari pikiranmu yang kolot, yang hanya ingin menyendiri, padahal kau tahu banyak orang di luar sana yang menyenangkan untuk diajak menghitung detik menjadi hal yang berharga, lagi-lagi kau memilih jalan gila untuk jadi beku dan jikalaupun kau telah meleleh itu hanya karena dirimu sendiri yang ingin pergi dari rasa dingin.
Berjalan dan berjalan, menarik nafas lalu mencoba lagi untuk berlari lebih kencang, tiba-tiba langit runtuh dan bumi menghimpit. Semua kefanaan yang berhasil kau bangun, tak bisa bertahan lama untuk menjadi penghibur. Tak cukup untuk membuatmu tenang dalam jam-jam senja, tak cukup membuatmu terbaring dengan detak jantung teratur, tak cukup untuk membuat matamu hanya menuju satu arah dan melamunkan kelampauan, tak cukup membuatmu tersenyum dengan batin yang tak menjerit-jerit, tak cukup, dan tak akan cukup, tak akan pernah cukup membuatmu hidup tenang sekalipun kau dapatkan apa yang kau inginkan. Ini semua karena terlalu banyak dunia yang telah kau bangun, dan kau tak sempat menenggak minuman yang disuguhkan takdir. Kau sadar kau telah kalah, kau sadar semua hanya bagian dari tindakan pembunuhan akan banyaknya ilusi dan anggapan, kau sadar semua akan berakhir seperti apa, kau tahu semuanya, tapi kau tak pernah ingin percaya sebelum cairan takdir itu benar-benar kau tenggak kemudian mengalir dalam kerongkongan keringmu, kau masih tak akan percaya sebelum kau ditampar dan merasakan apa yang hatimu korbankan ternyata hanyalah gas yang hanya sekejab. Mungkin itu bagian dari dirimu, atau sama sekali bukan, tapi itulah sepenuhnya diriku. Aku. Erviana.

Persembunyian Mata dan Rahasia


Aku selalu mendambanya. Berharap lebih pada sekedar hubungan dekat. Sesekali aku menciptakan dunia gila, yang menculiknya menjadi pemilik perasaan ini. Mungkin lebih baik lagi jika aku bisa menyentuh dan memegang tangannya dengan erat. Bisa menyandarkan lelahku dan mengucap semua kerisauan. Bisa mengusap rambutnya dengan lembut lalu tersenyum di depan kacamatanya. Bisa memegang kedua pipinya dan melihat lebih dekat senyum manisnya. Hingga bisa kuucapkan segala kata yang bisa mewakili perasaan yang tlah terkubur begitu lama.

Sungguh malam yang panjang, tiap kali aku menyandera hatiku bersama dirinya yang tak mungkin termiliki. Sedang jalan yang ku tempuh begitu panjang, dan hanya dia yang membuatku lupa bagaimana lelah itu.

Setiap hari melihatnya dengan cara berbeda namun selalu dengan rasa yang sama. Betapa ini sungguh sangat menggangguku. Dan dia tak pernah membuat ini menjadi lebih mudah. Mungkin ia tahu, bagaimana aku mencuri bayangannya secara tereselubung. Tapi sekalipun tidak, aku tak pernah berharap lebih pada kenyataan untuk mewujudkan semua ini. Kita terlalu berbeda.
Masih ada sisa harapan untuk bertahan menjadi patung hidup yang mencintai atas nama RAHASIA.

Karena ia begitu jauh dari apa yang seharusnya aku cari. Tentu saja ini tentang siapa aku dan siapa dia. Ada jarak yang jauh antara sisi kepantasan dibalik segala keindahan mata dan yang menyenangkan hati. Begitulah cinta ini terbunuh dengan sendirinya. Hanya dengan kesadaran.
Tentu saja, masih ada keinginan untuk menjaga waktu bersamanya, tapi tak akan ku biarkan lebih dari sekedar mimpi. Karena aku tak tahu, bagaimana caranya memandangku.

Selagi aku bisa melihatmu tersenyum, melihatmu membasahi rambut di sore hari, memandangmu lewat lirikan, dan menyentuhmu secara tak sengaja, aku bisa katakan pada hari esok bahwa aku bisa bahagia dengan “dirimu” yang tak mungkin “termiliki”.

                                                                                                                                    (Love You)


Kehidupan Mati dan Mati Sesungguhnya

kenapa begitu jauh jalan ini harus aku ku titi?? 
bahkan dengan mata tertutup?? 
tulangku benar-benar terasa lapuk dan semua yang ada di dalam benar-benar sudah lebur tak terkira sakitnya. 
aku tak punya siapa-siapa untuk bisa sekedar menjagaku tidur. 
semua berteriak dan berteriak. 
aku benar-benar muak dengan semua orang-orang ini. kapan aku dapat ruang untuk menghela nafasku sendiri??
aku tak sempat mengusap air mata ini saat aku memalingkan wajah sekalipun. semua telah hancur dan hancur. 
begitu kesepian dan aku seperti hidup di tengah gurun pasir. 
menjadi mumi yang berjalan terpincang-pincang, terseret-seret , terseok-seok,. kesusahan mencari jalan dan jatuh berulang-ulang kali. 
bangun dan bangkit sendirian  hanya dengan satu tongkat tua. aku benar-benar merasa sesak setengah mati. 
tidakkah ada air mata yang bahagia yang akan mengalir untuk bisa menggurahkan sedihku sekali ini?? 
aku teramat kesal dan tak mengerti harus bahagia seperti apa. aku terpuruk dalam kegelapan, kesunyian, dan terpencil. 
entah apa yang membedakanku dengan keadaan ini, tapi nyatanya semua tak pernah berhasil. mengapa mencekikku dengan semua ketakutan ini jika semua tak akan menjadi nyata dan teramat sakit dengan semua kisah. aku dan semua yang ada hanyalah sandiwara waktu untuk menjadi sempurna karena sebuah cerita. 
Sukses atau keberhasilan apapun, tak lagi membuatku mempunyai keyakinan. yang aku tahu, semua ini pasti ada akhirnya. entah dengan cara apapun. pasti akan berakhir pula. 
mati ? itu juga sebuah solusi. 
tapi itu benar-benar bodoh.. dan konyol. 
sungguh bukan itu yang aku minta Tuhan, tapi aku sudah benar-benar sesak. 
Engkau ingin aku bertahan lebih keras lagi, tapi mengapa aku tak sekuat itu ?? mengapa aku tak sekeras itu ? 
mengapa aku masih kalah dengan keadaan itu pula?? 
lantas duniaku berputar dan menggoncang semua isi otakku menjadi lebih kacau balau... hancur sehancur-hancurnya
mereka bilang ini bisa saja menjadi awal, tapi tak lagi mampu rasakan hidup. 




Tulisan di atas merupakan sebuah tragedi dari pertikaian batin dan raga yang bisa dikatakan kehilangan semangat. Kita bisa katakan kehilangan semangat, bukan putus asa. Dalam hidup, semua orang pasti pernah merasakan kehilangan semangat bukan? namun saya berharap kita tidak akan pernah kehilangan tujuan. Sebab, jika kita tidak punya tujuan, maka itulah "kehidupan mati" yang sebenarnya sebelum "mati sesungguhnya".
Allright!! tetap semangat, bekerja keras hingga sekeras-kerasnya. Mudakan dirimu dengan selalu berkarya dan bersyukur ya.