Jika ini memang drama
Ini
bukan lingkungan yang mudah untuk bisa ku hadapi. Ku kira memang jalannya akan
bisa ku ikuti dengan langkah ringan sekalipun terseok-seok. Selama ini ternyata
aku hanya berdiri pada bayangan awan. Aku ketakutan seperti tak punya banyak
suara untuk sekedar meminta sebuah pertolongan. Rasanya tak berguna juga, tak
akan ada yang perduli bahkan untuk sekedar menoleh. Karenanya, ku simpan
semuanya di balik punggungku.
Sesaat
aku merasa ada seseorang di sampingku. Meski hanya sebuah cerita kecil yang
bisa ku utarakan, setidaknya aku merasa punya tempat teduh untuk membuang
pikiran gilaku tentang sesuatu yang tak seharusnya ku pikirkan. Ku rasa aku
memang punya seseorang untuk membuatku menyerah pada kepribadianku yang lain.
Aku
telah mendengar banyak omong kosong, bahkan omong kosong yang benar-benar
memuakkan. Siapa yang mengira bahwa itulah yang ku dengar setiap harinya, dari
orang-orang yang tidak pernah memberiku kesempatan untuk jadi subjek. Jika ini
memang sebuah drama, aku yakin aku akan mendapat penghargaan atas peranku
sebagai tembok hidup yang bisa tersenyum dan bertepuk tangan.
Suatu
hari aku berkata, “aku menjalani semuanya sendiri. Jadi, semua jalan tak akan
mudah untuk ku lewati sekalipun hanya satu langkah”. Jika ini memang bukan
drama, maka akan ada tanggapan “kau bisa melakukannya”. Itu adalah jawaban
tergila yang ingin aku dengar dari mulut yang setia didengarkan oleh inderaku.
“kau
butuh apa? Selagi aku bisa tentu aku akan membantumu!” “baiklah, kau benar!”,
“tentu saja kau bisa diandalkan, karena kau terlalu hebat”, “kau memang teman
yang baik”, “maaf, aku terlalu merepotkan”, “Terimakasih” “terimakasih”
“terimakasih” dialog itu adalah mantra pertemanan yang harus ku ucapkan setiap
harinya. Terlebih, aku harus berakting ‘menyenangkan’ dengan lelucon dan peran
yang membuat diriku terlihat bodoh di hadapan semua orang. Jika ini memang
sebuah drama, aku benar-benar butuh script baru untuk episode selanjutnya. Aku benar-benar
lelah.
Saat
tepuk tangan telah benar-benar ku dengar dan penonton senang atas peranku saat
itu pula ku sadar bahwa ini semua hanyalah penderitaan. Hanya penderitaan. Aku
merasa sakit. Aku merasa tidak seharusnya seperti ini. tapi lingkungan ini,
panggung ini, tidaklah memberikan pilihan yang lebih mudah.
Sekarang
barulah aku sadar, sejak awal aku memang tak punya seeseorang, tak ada siapa-siapa
di sekelilingku. Hanya aku, hanya diriku sendiri yang bermain banyak peran.
Akulah scenario sekaligus drama itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar