Sabtu, 25 Februari 2017

MAKNA KESEPIAN


Cerita kita tentang kebahagiaan yang tak terbendung bisa terasakan hanya dengan membuka mata lebih lebar dan memahami apa yang kita rasakan. Secara nurani aku hanya dapat membaca bagian dari setengah yang mereka katakan dengan mata sedikit lebih ringan. Tapi kadang banyak diantara mereka yang tak bisa mengenalku dengan ungkapan yang tak bisa dipahami dengan sekedar mata yang terbuka. Sebenarnya ada banyak yang ingin aku bagi jika sekedar ucapan “hi”.
gunungkidul

 Sementara itu, diantara jiwa-jiwa mereka yang terputus dengan ingatan yang buramnya aku ingin memaksa hati ini untuk bisa mempercayai bagaimana seharusnya langkah itu bisa melanjutkan hidupnya. Agaknya memang bisa dinalar dengan pertanyaan mengapa ada ini untuk kita sekarang? Tapi sekali lagi, tidak pernah mudah untuk bisa menjadi rembulan di awal sore yang mengingat dengan mudah hidup .
Ketika kita bisa membaca situasi dengan mudah dan mencintai hidup dengan bersyukur atas sekecil apapun nikmat akan banyak hal positif yang membuat kita mengerti kenapa masalah begitu sebegini susah. Kadang kita menari dalam bayangan kebahagiaan yang tak kita tahu mengapa kita menari dengan perasaan ini, tapi banyak hal gila yang membuat kita semakin tak lagi mudah untuk mengungkap apa yang sebenarnya dikatakan hati untuk menjadi kita lebih baik. Aku ingin mengenal dengan  mudah apa yang menjadi masalah ini dan masalah itu dalam keadaan apapun. Entah bagaimana kita bisa mencari makna dari sebuah kesepian. Aku tak lagi bisa paham meski mencoba beberapa makna yang butuh proses banyak dari sebuah kata belajar bersyukur.

Sabtu, 11 Februari 2017

MOTIVASI HIDUP


Andrie wongso
Setelah saya menonton video motivasi beliau, saya tahu bahwa pekerjaan pertama yang ia dapat, ia menjadi tukang angkut barang, yang bekerja di sebuath Toko. Namun ia tetap bersemangat akan apa yang Ia jalani saat ini. Kemudian ia bertekad kuat untuk menjadi bintang film Hongkong. Dengan banyak harapan dan penuh semangat, ia terus berjuang untuk mendapatkan apa yang ia dapatkan. Pada akhirnya ia pun berhasil menjadi bintang film. Kemudian setelah tiga tahun menjadi bintang film, ia pulang ke Indonesia, menjadi actor dalam negeri. Setelah semuanya, ia tetap mencari banyak hal yang lebih produktif dalam hidupnya. Dengan banyak tujuan, ia pun selalu percaya pada kerja keras.
Mau sukses hadapi semua halangan. Kita mungkin tidak tahu, apa yang akan terjadi pada hari esok. Tapi kita telah tahu, apa yang terjadi pada saat sekarang, dan yang kita bisa dilakukan adalah melakukan sebaik mungkin. Jika pekerjaan kita saat ini tidaklah sesuai dengan keinginan, maka yakinkan pada hatimu untuk belajar bersabar. Sebab pekerjaan “ini” bisa saja hanyalah menjadi pekerjaan yang hanya sementara atau langkah yang harus kita lewati untuk bisa sampai pada langkah selanjutnya yang lebih baik.
Sebagai pengembara aku harus sukses dalam jalan ini. Aku berani, untuk menghadapai masalah dan rintangan yang muncul. Baik dan buruk masa depan kita adalah kita yang menentukan masa depan kita sendiri. Jangan pernah menyerah dengan keadaan, rasa malas, takut , ragu, dan negative thinking harus kita buang sejah mungkin.
1.     Tidak punya teori tidak praktik (hasil tidak akan memuaskan)
2.     Punya teori tapi tidak mau praktek (hasil yang sebelumnya kita dapat, akan menjadi sia-sia
3.     Tidak punya teori, tapi praktik
4.     Punya teori dan praktik.
Kekuatan antusias
Bagi orang yang punya antusias, akan tahu cara yang efektif untuk melakukan sesuatu untuk meraih tujuan. Sebab dengan antusias akan ada banyak semangat yang dapat kita gunakan untuk mencoba hal baru. Jika anda keras dengan anda sendiri maka hidup akan lunak. Kita harus terus antusias dalam menjalani hidup.
Mereka γang beralasan "tidak punya waktu" adalah mereka γang membiarkan waktu mengatur hidupηγa, bukan malah sebaliknya.
Masalah itu "adil", ia datang kepada semua orang, tetapi tidak dengan jalan keluar. Jalan keluar hanya datang kepada mereka γang mencariηγa.
Dunia lebih menghargai orang yang mau melakukan pekerjaan kecil daripada orang yang hanya memiliki rencana besar.
Nasib baik tidak pernah salah memilih orang, ia memilih orang yang proaktif menjemputηγa.
Gunakan perasaan saat menghadapi manusia; gunakan logika saat menghadapi masalah.
Jangan hanya tertarik dengan аρа yang dicapai orang sukses, tertariklah dengan air mata γang mereka keluarkan untuk mencapainya.
Yang menyedihkan bukanlah "bidikan γang meleset", tapi "bidikan tanpa target".
Hidup ibarat sebuah buku, Tuhan menyediakan pena (takdir), akan tetapi Andalah penulisηγa (nasib).
Hal yang perlu ditakuti saat mengkritik orang lain adalah ketika kita sendiri pun tidak lebih baik dari mereka!
Tetap semangat menghadapi segala rintangan dalam hidup, karena dengan itu, kita dapat satu langkah lebih  maju dalam meraih apa yang kita inginkan.

BERMAIN SENDIRIAN


Jika ini memang drama


Ini bukan lingkungan yang mudah untuk bisa ku hadapi. Ku kira memang jalannya akan bisa ku ikuti dengan langkah ringan sekalipun terseok-seok. Selama ini ternyata aku hanya berdiri pada bayangan awan. Aku ketakutan seperti tak punya banyak suara untuk sekedar meminta sebuah pertolongan. Rasanya tak berguna juga, tak akan ada yang perduli bahkan untuk sekedar menoleh. Karenanya, ku simpan semuanya di balik punggungku.
Sesaat aku merasa ada seseorang di sampingku. Meski hanya sebuah cerita kecil yang bisa ku utarakan, setidaknya aku merasa punya tempat teduh untuk membuang pikiran gilaku tentang sesuatu yang tak seharusnya ku pikirkan. Ku rasa aku memang punya seseorang untuk membuatku menyerah pada kepribadianku yang lain.
Aku telah mendengar banyak omong kosong, bahkan omong kosong yang benar-benar memuakkan. Siapa yang mengira bahwa itulah yang ku dengar setiap harinya, dari orang-orang yang tidak pernah memberiku kesempatan untuk jadi subjek. Jika ini memang sebuah drama, aku yakin aku akan mendapat penghargaan atas peranku sebagai tembok hidup yang bisa tersenyum dan bertepuk tangan.
Suatu hari aku berkata, “aku menjalani semuanya sendiri. Jadi, semua jalan tak akan mudah untuk ku lewati sekalipun hanya satu langkah”. Jika ini memang bukan drama, maka akan ada tanggapan “kau bisa melakukannya”. Itu adalah jawaban tergila yang ingin aku dengar dari mulut yang setia didengarkan oleh inderaku.
“kau butuh apa? Selagi aku bisa tentu aku akan membantumu!” “baiklah, kau benar!”, “tentu saja kau bisa diandalkan, karena kau terlalu hebat”, “kau memang teman yang baik”, “maaf, aku terlalu merepotkan”, “Terimakasih” “terimakasih” “terimakasih” dialog itu adalah mantra pertemanan yang harus ku ucapkan setiap harinya. Terlebih, aku harus berakting ‘menyenangkan’ dengan lelucon dan peran yang membuat diriku terlihat bodoh di hadapan semua orang. Jika ini memang sebuah drama, aku benar-benar butuh script baru untuk episode selanjutnya. Aku benar-benar lelah.
Saat tepuk tangan telah benar-benar ku dengar dan penonton senang atas peranku saat itu pula ku sadar bahwa ini semua hanyalah penderitaan. Hanya penderitaan. Aku merasa sakit. Aku merasa tidak seharusnya seperti ini. tapi lingkungan ini, panggung ini, tidaklah memberikan pilihan yang lebih mudah.
Sekarang barulah aku sadar, sejak awal aku memang tak punya seeseorang, tak ada siapa-siapa di sekelilingku. Hanya aku, hanya diriku sendiri yang bermain banyak peran. Akulah scenario sekaligus drama itu. 

BUNGA BENAR-BENAR MATI


Baiklah, ku anggap ini akhirnya. Entah kau akan bisa ingat atau tidak tentang apa yang terjadi hari kemarin. 26 Desember 2016 ku dengar suaramu begitu samar. Jika ini mimpi, ku pastikan aku hanya akan melihatmu dari jauh lalu berjalan pulang. Tapi mataku kini tak lagi terpejam dan ku saksikan sendiri, kau datang dan berdiri di ambang pintu, sembari tersenyum. Seketika itu pula aku berfikir tentang banyak hal dan semuanya tentang ‘akhirnya kamu kembali’.
Aku cukup gugup mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu. Tapi aku senang kita bisa bertemu lagi. Aku sudah siapkan banyak pertanyaan untuk menguraikan kebuntuan yang selama ini kita hadapi secara mendadak. Aku benar-benar antusias ingin katakan banyak hal. Kau tahu kan? Bukankah kau juga merasa demikian?
Ini seperti sebuah tamparan yang begitu keras yang melayang di pipiku. Aku benar-benar merasa tak lagi punya daya untuk meluruskan pikiranku. Kau datang bersama perempuan itu. ya, kau datang berdua. Setelah sekian lama menunggu dengan mata yang hampir tak pernah tertidur hanya untuk melihatmu dengan mata batinku dengan rerintihan doa. Rasanya seperti dihianati dan dibuang sekarang.
Kau duduk dan mencoba menjelaskan tentang semua yang terjadi dengan banyak kata. Aku hanya menatapmu, dan kau mencoba menghindar. Rasanya begitu muak mendengarkan ocehanmu yang terdengar seperti sampah. Apakah ini dialog yang telah kau persiapkan untuk membuatku baik-baik saja? Sekalipun sebenarnya itu bukan dirimu, aku hanya tak bisa percaya, kau menarikku sejauh ini untuk ikut menghadapi kenyataan yang awalnya kau buat sendiri.
“maafkan aku, aku juga gak tau jika akhirnya jadi begini. Ini semua diluar kehendakku. Tapi semua sudah terlanjur. Aku tahu ini semua salahku dan aku minta maaf”.
Tanpa ku jelaskan bagaimana rasanya, tentu kau sudah bisa tahu kan? Dan aku begitu membencimu karena hal ini.
Jika suatu hari nanti kau temukan tulisan ini, katakan padaku dimana sebenarnya salahku sebelum semua ini dimulai. Bagaimana kamu bisa berfikir untuk benar-benar membelakangiku sedang kita masih baik-baik saja. Kenapa kau mencoba mengenal orang lain tanpa menjauhiku dengan sebuah alasan yang jelas. Kau pikir hubungan yang sudah bertahun-tahun ini akan kau bawa kemana? Apa gunanya kita bicara sepanjang waktu, bertanya kabar dan saling menunggu seperti selama ini? tidakkah kau ingat, aku mengenalmu dengan baik dan begitu mengindahkanmu sejak pertama kita bertemu 22 Desember 2011. Bukankah itu sudah dikatakan cukup untuk saling mengenal satu sama lain? Katakan padaku sekali lagi, kenapa kau tetap mempertahankanku jika kau punya niat untuk mencari yang lebih baik sekarang? apa aku telah mengecewakanmu karena aku tidak seperti pacar teman-temanmu yang berjas putih dengan gelar Amd – nya ? sehingga kamu bermaksud melepaskanku perlahan seiring datangnya mereka yang mengagumi seragammu? Tidakkah ini keterlaluan? Apa maksudmu sebenarnya?
Tidakkah kau lihat selama ini aku berjalan sendirian. Aku menekuk punggungku setiap hari dan bergadang setiap malam selama bertahun-tahun. Mengejar semuanya sendirian. Ku kira kau mengerti bagaiamana susahnya kerja keras yang ku maksud. Jadi aku tidak harus katakan semuanya secara terang-terangan dan memilih diam. Aku juga bisa melihatmu berjuang dengan cita-citamu sendiri. Sekalipun aku tak pernah bertanya banyak tentang itu, tidak memujimu ataupun memberikan banyak ucapan selamat, dan selalu menolak untuk datang ke Bandung, aku selalu doakan yang terbaik untukmu. Hanya saja kau selalu melihatku dengan sudut yang berbeda. kau selalu menilaiku tidak perhatian, terlalu acuh, dan merekayasa ada pihak ketiga yang seharusnya pantas ku tanyakan padamu.
Ku kira aku memang cukup bodoh mau bermain hingga sejauh ini. rasanya memang lelah sendiri akhirnya. Ketulusan yang ku gambar manis dengan kesetiaan itu hanyalah membuatku terlihat sia-sia. Andai mulutku bisa mempelajari suatu hal dari cerita mantanmu, maka aku bisa setuju sekarang jika kamu memang bajingan. Maafkan aku yang tidak sopan, tapi aku terlalu malu untuk mendongak ke atas dan menjelaskan semuanya pada kenyataan. Kamu memang tidak pantas untuk dipertahankan. Sama sekali tidak.
Apakah memang selama ini hanyalah permainan? Apakah harus kau datang ke rumah dan membuatku jadi gadis yang tak tahu malu yang mengizinkan laki-laki datang ke rumahnya sebegitu sering dan bertemu dengan ibunya dengan obrolan ringan tanpa suatu maksud? Kau pikir aku ini apa ? di mana kita dulu apakah kau tak bisa memahaminya dengan lebih baik lagi? Kau begitu menyebalkan. Aku bahkan sempat ingin memakimu saat itu.  
(bersambung..)

Senin, 23 Januari 2017

surat matinya bunga saat kuncup


Baiklah, ku anggap ini akhirnya. Entah kau akan bisa ingat atau tidak tentang apa yang terjadi hari kemarin. 26 Desember 2016 ku dengar suaramu begitu samar. Jika ini mimpi, ku pastikan aku hanya akan melihatmu dari jauh lalu berjalan pulang. Tapi mataku kini tak lagi terpejam dan ku saksikan sendiri, kau datang dan berdiri di ambang pintu, sembari tersenyum. Seketika itu pula aku berfikir tentang banyak hal dan semuanya tentang ‘akhirnya kamu kembali’.
Aku cukup gugup mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu. Tapi aku senang kita bisa bertemu lagi. Aku sudah siapkan banyak pertanyaan untuk menguraikan kebuntuan yang selama ini kita hadapi secara mendadak. Aku benar-benar antusias ingin katakan banyak hal. Kau tahu kan? Bukankah kau juga merasa demikian?
Ini seperti sebuah tamparan yang begitu keras yang melayang di pipiku. Aku benar-benar merasa tak lagi punya daya untuk meluruskan pikiranku. Kau datang bersama perempuan itu. ya, kau datang berdua. Setelah sekian lama menunggu dengan mata yang hampir tak pernah tertidur hanya untuk melihatmu dengan mata batinku dengan rerintihan doa. Rasanya seperti dihianati dan dibuang sekarang.
Kau duduk dan mencoba menjelaskan tentang semua yang terjadi dengan banyak kata. Aku hanya menatapmu, dan kau mencoba menghindar. Rasanya begitu muak mendengarkan ocehanmu yang terdengar seperti sampah. Apakah ini dialog yang telah kau persiapkan untuk membuatku baik-baik saja? Sekalipun sebenarnya itu bukan dirimu, aku hanya tak bisa percaya, kau menarikku sejauh ini untuk ikut menghadapi kenyataan yang awalnya kau buat sendiri.
“maafkan aku, aku juga gak tau jika akhirnya jadi begini. Ini semua diluar kehendakku. Tapi semua sudah terlanjur. Aku tahu ini semua salahku dan aku minta maaf”.
Tanpa ku jelaskan bagaimana rasanya, tentu kau sudah bisa tahu kan? Dan aku begitu membencimu karena hal ini.

Jika suatu hari nanti kau temukan tulisan ini, katakan padaku dimana sebenarnya salahku sebelum semua ini dimulai. Bagaimana kamu bisa berfikir untuk benar-benar membelakangiku sedang kita masih baik-baik saja. Kenapa kau mencoba mengenal orang lain tanpa menjauhiku dengan sebuah alasan yang jelas. Kau pikir hubungan yang sudah bertahun-tahun ini akan kau bawa kemana? Apa gunanya kita bicara sepanjang waktu, bertanya kabar dan saling menunggu seperti selama ini? tidakkah kau ingat, aku mengenalmu dengan baik dan begitu mengindahkanmu sejak pertama kita bertemu 22 Desember 2011. Bukankah itu sudah dikatakan cukup untuk saling mengenal satu sama lain? Katakan padaku sekali lagi, kenapa kau tetap mempertahankanku jika kau punya niat untuk mencari yang lebih baik sekarang? apa aku telah mengecewakanmu karena aku tidak seperti pacar teman-temanmu yang berjas putih dengan gelar Amd – nya ? sehingga kamu bermaksud melepaskanku perlahan seiring datangnya mereka yang mengagumi seragammu? Tidakkah ini keterlaluan? Apa maksudmu sebenarnya?
Tidakkah kau lihat selama ini aku berjalan sendirian. Aku menekuk punggungku setiap hari dan bergadang setiap malam selama bertahun-tahun. Mengejar semuanya sendirian. Ku kira kau mengerti bagaiamana susahnya kerja keras yang ku maksud. Jadi aku tidak harus katakan semuanya secara terang-terangan dan memilih diam. Aku juga bisa melihatmu berjuang dengan cita-citamu sendiri. Sekalipun aku tak pernah bertanya banyak tentang itu, tidak memujimu ataupun memberikan banyak ucapan selamat, dan selalu menolak untuk datang ke Bandung, aku selalu doakan yang terbaik untukmu. Hanya saja kau selalu melihatku dengan sudut yang berbeda. kau selalu menilaiku tidak perhatian, terlalu acuh, dan merekayasa ada pihak ketiga yang seharusnya pantas ku tanyakan padamu.

Ku kira aku memang cukup bodoh mau bermain hingga sejauh ini. rasanya memang lelah sendiri akhirnya. Ketulusan yang ku gambar manis dengan kesetiaan itu hanyalah membuatku terlihat sia-sia. Andai mulutku bisa mempelajari suatu hal dari cerita mantanmu, maka aku bisa setuju sekarang jika kamu memang bajingan. Maafkan aku yang tidak sopan, tapi aku terlalu malu untuk mendongak ke atas dan menjelaskan semuanya pada kenyataan. Kamu memang tidak pantas untuk dipertahankan. Sama sekali tidak.
Apakah memang selama ini hanyalah permainan? Apakah harus kau datang ke rumah tanpa suatu maksud? Kau pikir aku ini apa ? di mana kita dulu apakah kau tak bisa memahaminya dengan lebih baik lagi? Kau bisa mati dengan kenangan ini kelak.

puisi patah hati


Tertinggal

Temaram menutup kelompak mata
Di tengah sepi pudar gerhana biru
Tengah mengadu dengan lirih dia yang menguncup
Pada pinggiran makam dingin
Aku di tengah-tengahnya
Menangis dan mengolok-olok masa lalu
Teruntuk dia yang menjadi ayah
Dalam pngkuan hangat ananknya bersandar
Juga istrinya yang mengusap punggungmu dengan lembut
Dan, kau letakkan aku dimana sekarang?
Bajingan tengik yang ku rindukan namanya
Langit hitam menutupku dengan rapat
Aku sesak dan patah hati lagi
Menangisi sendiri cinta matiku