Senin, 23 Januari 2017

surat matinya bunga saat kuncup


Baiklah, ku anggap ini akhirnya. Entah kau akan bisa ingat atau tidak tentang apa yang terjadi hari kemarin. 26 Desember 2016 ku dengar suaramu begitu samar. Jika ini mimpi, ku pastikan aku hanya akan melihatmu dari jauh lalu berjalan pulang. Tapi mataku kini tak lagi terpejam dan ku saksikan sendiri, kau datang dan berdiri di ambang pintu, sembari tersenyum. Seketika itu pula aku berfikir tentang banyak hal dan semuanya tentang ‘akhirnya kamu kembali’.
Aku cukup gugup mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu. Tapi aku senang kita bisa bertemu lagi. Aku sudah siapkan banyak pertanyaan untuk menguraikan kebuntuan yang selama ini kita hadapi secara mendadak. Aku benar-benar antusias ingin katakan banyak hal. Kau tahu kan? Bukankah kau juga merasa demikian?
Ini seperti sebuah tamparan yang begitu keras yang melayang di pipiku. Aku benar-benar merasa tak lagi punya daya untuk meluruskan pikiranku. Kau datang bersama perempuan itu. ya, kau datang berdua. Setelah sekian lama menunggu dengan mata yang hampir tak pernah tertidur hanya untuk melihatmu dengan mata batinku dengan rerintihan doa. Rasanya seperti dihianati dan dibuang sekarang.
Kau duduk dan mencoba menjelaskan tentang semua yang terjadi dengan banyak kata. Aku hanya menatapmu, dan kau mencoba menghindar. Rasanya begitu muak mendengarkan ocehanmu yang terdengar seperti sampah. Apakah ini dialog yang telah kau persiapkan untuk membuatku baik-baik saja? Sekalipun sebenarnya itu bukan dirimu, aku hanya tak bisa percaya, kau menarikku sejauh ini untuk ikut menghadapi kenyataan yang awalnya kau buat sendiri.
“maafkan aku, aku juga gak tau jika akhirnya jadi begini. Ini semua diluar kehendakku. Tapi semua sudah terlanjur. Aku tahu ini semua salahku dan aku minta maaf”.
Tanpa ku jelaskan bagaimana rasanya, tentu kau sudah bisa tahu kan? Dan aku begitu membencimu karena hal ini.

Jika suatu hari nanti kau temukan tulisan ini, katakan padaku dimana sebenarnya salahku sebelum semua ini dimulai. Bagaimana kamu bisa berfikir untuk benar-benar membelakangiku sedang kita masih baik-baik saja. Kenapa kau mencoba mengenal orang lain tanpa menjauhiku dengan sebuah alasan yang jelas. Kau pikir hubungan yang sudah bertahun-tahun ini akan kau bawa kemana? Apa gunanya kita bicara sepanjang waktu, bertanya kabar dan saling menunggu seperti selama ini? tidakkah kau ingat, aku mengenalmu dengan baik dan begitu mengindahkanmu sejak pertama kita bertemu 22 Desember 2011. Bukankah itu sudah dikatakan cukup untuk saling mengenal satu sama lain? Katakan padaku sekali lagi, kenapa kau tetap mempertahankanku jika kau punya niat untuk mencari yang lebih baik sekarang? apa aku telah mengecewakanmu karena aku tidak seperti pacar teman-temanmu yang berjas putih dengan gelar Amd – nya ? sehingga kamu bermaksud melepaskanku perlahan seiring datangnya mereka yang mengagumi seragammu? Tidakkah ini keterlaluan? Apa maksudmu sebenarnya?
Tidakkah kau lihat selama ini aku berjalan sendirian. Aku menekuk punggungku setiap hari dan bergadang setiap malam selama bertahun-tahun. Mengejar semuanya sendirian. Ku kira kau mengerti bagaiamana susahnya kerja keras yang ku maksud. Jadi aku tidak harus katakan semuanya secara terang-terangan dan memilih diam. Aku juga bisa melihatmu berjuang dengan cita-citamu sendiri. Sekalipun aku tak pernah bertanya banyak tentang itu, tidak memujimu ataupun memberikan banyak ucapan selamat, dan selalu menolak untuk datang ke Bandung, aku selalu doakan yang terbaik untukmu. Hanya saja kau selalu melihatku dengan sudut yang berbeda. kau selalu menilaiku tidak perhatian, terlalu acuh, dan merekayasa ada pihak ketiga yang seharusnya pantas ku tanyakan padamu.

Ku kira aku memang cukup bodoh mau bermain hingga sejauh ini. rasanya memang lelah sendiri akhirnya. Ketulusan yang ku gambar manis dengan kesetiaan itu hanyalah membuatku terlihat sia-sia. Andai mulutku bisa mempelajari suatu hal dari cerita mantanmu, maka aku bisa setuju sekarang jika kamu memang bajingan. Maafkan aku yang tidak sopan, tapi aku terlalu malu untuk mendongak ke atas dan menjelaskan semuanya pada kenyataan. Kamu memang tidak pantas untuk dipertahankan. Sama sekali tidak.
Apakah memang selama ini hanyalah permainan? Apakah harus kau datang ke rumah tanpa suatu maksud? Kau pikir aku ini apa ? di mana kita dulu apakah kau tak bisa memahaminya dengan lebih baik lagi? Kau bisa mati dengan kenangan ini kelak.

puisi patah hati


Tertinggal

Temaram menutup kelompak mata
Di tengah sepi pudar gerhana biru
Tengah mengadu dengan lirih dia yang menguncup
Pada pinggiran makam dingin
Aku di tengah-tengahnya
Menangis dan mengolok-olok masa lalu
Teruntuk dia yang menjadi ayah
Dalam pngkuan hangat ananknya bersandar
Juga istrinya yang mengusap punggungmu dengan lembut
Dan, kau letakkan aku dimana sekarang?
Bajingan tengik yang ku rindukan namanya
Langit hitam menutupku dengan rapat
Aku sesak dan patah hati lagi
Menangisi sendiri cinta matiku